Tataney Tou Ase Serap Wangko

Kumeli-Keli Se Tou Makaento Asi Serap Wangko Ung Mator Wentel, Mindo Wentel, Tumembur Im Bentel, Wo Sila Si Mumper Ase Tampa Kapelian.

Owak Sama Se Apo Ta Wo

Sapakem Se Teteir Makaento Ase Tou Winentelan, Wo Sila Si Maka Timboy Wentel.

Em Poporak Ung Nowak Kapute Mateleb

Se Wentel Anio Papaken Ne Tou Elur Sama Kaporak Owakna Kapute Se Lumelepad Ma Teleb, Sapakem Si Wentel Anio Sa U Ca Kiitan Sama Mema Sia Pakua Ila Madiara.

Walian Wangko Tu'a Tumompaso Andiorwo

Puser Im Pe Mentelan Eng Kanaramen An Tana Tumompaso Situm Eng Kukuwa Ila Walian Wangko Tu'a. Mangaley, Rumeindeng Wo Mapangila Kamang Ase Amang Kasuruan Wangko An Tana Minahasa

Eng Katimboy-Timboy Tou Em Bentel

Pakasa Tou Matimboy Wentel Caka Pilaan Em Palalin Ila, Se Apo Maka Teir Eng Nowak Ila Wo Mengiit-Ngiit Sila Maya Mabisake.

Tampilkan postingan dengan label Pinawetengan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pinawetengan. Tampilkan semua postingan

BE''TENG ASE TOU PAKASA


Hakekatnya Ilmu Gaib adalah pengetahuan tentang segala yang tidak kelihatan (rahasia alam dsb), dimana gaib identik atau sama dengan mistik. Sedangkan pengertian mistik menurut @_Wikipedia adalah berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinnig), tersembunyi (verborgen), gelap (donker) atau terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).

Berdasarkan arti tersebut mistik sebagai sebuah paham yaitu paham mistik atau mistisisme merupakan paham yang memberikan ajaran yang serba mistis (misal ajarannya berbentuk rahasia atau ajarannya serba rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman) sehingga hanya dikenal, diketahui atau dipahami oleh orang-orang tertentu saja, terutama sekali penganutnya.

Web ini bukan dimaksudkan untuk menghidupkan kembali  sesuatu kekuatan yang sebagian orang dianggap kekuatan jahat namun terlebih besar dimaksudkan sebagai bagian sejarah dari praktek      kekuatan magis yang pernah ada di Minahasa sejak dahulu hingga kini. Segala konten yang dimuat dan rahasia terbesar dari kekuatan magis suku Minahasa masih dirahasiakan yang hanya diketahui penulis dan sang sumber baik praktisi maupun pemilik kekuatan magis tersebut.


Rahasia kekuatan magis suku Minahasa telah terbukti dibeberapa pulau besar di Indonesia misalnya di jaman colonial Belanda dahulu, kesempurnaan kekuatan ilmu demikian masih tetap hidup hingga sekarang. Satu hal terbesar kekuatan ilmu Minahasa adalah sangat praktis, tidak sulit bahkan sangat sempurna. Kiranya halaman ini dapat memberikan sesuatu wawasan dan informasi yang berguna untuk anda.      

Pengrajin Pakaian


Seperti telah dijelaskan dalam bagian lain dari tulisan ini, maka jelaslah dalam jaman minaesa ini, sudah ada Tonaas-Tonaas yang telah memiliki keahlian-keahlian spesialisasi seperti Tonaas Maulang dengan keahlian pemintalan benang dari serat kayu, kemudian lebih meningkat dengan adanya keahlian menenun serat dan membuat kain oleh Tonaas Tombarian ; maka dengan itu pakaian, perhiasan, dan kelengkapaanya mengalami perkembangan yang pesat. Sebagai hasil pengrajin suku Minahasa disebut kain Bentenan, (Bentenan adalah nama sebuah tempat yang terdapat disebelah timur Minahasa sekarang masuk wilayah kecamatan Belang)

Dalam buku “DECORATIVE ART IN INDONESIAN TEKSTILES” hasil karya dari LANGEWIS dan FRITS WAGNER dijelaskan bahwa teknik menenun kain bentenan adalah termasuk dalam golongan tenunan ikat. Motif hiasan pada kain dibuat berdiri dalam deretan memanjang, sehingga bila kain direntangkan memanjang akan Nampak gambar manusia dalam posisi berdiri. Walaupun tak ada penjelasan tentang motif ini, tetapi sesuai penjelasan berbunyi : “Saya memberanika diri untuk memberi pendapat, bahwa motif manusia itu adalah seorang wanita karena ada dua titik yang menyerupai buah dada pada motif manusia tersebut dan dikepalanya ada kembang goyang, dengan telinga yang tak berbentuk setengah lingkaran, tetapi mencuat kesamping, seolah-olah ingin menggambarkan anting-anting yang disebut INTOI PATOLA.


Kembang goyang disebut Ginerungan. Gerung = kembang. Kain tenunan ini sudah hilang sama sekali, kecuali tinggal sebagai bahan studi perbandingan untuk usaha modernisasi pakaian Minahasa

Waraney Dan Pakaiannya (Kalima)


Pakaian Para Waraney
Pakaian Penari (Waraney Wanita).
Seperti pakaian upacara, maka pakaian untuk penaripun sudah dikenal, walaupun bahan-bahan dan kelengkapannya masih sederhana dan diambil dari bahan-bahan disekitarnya. Namun tak dapat disangkal bahwa ada yang sudah diambil dari bahan yang dibawah oleh pendatang misalnya bahan kain ataupun modelnya sudah mulai berobah. Macam-macam pakaian penari yang dikenal masa itu seperti berikut :

Busana Penari Tombarian
(Waraney Wanita). Lihat Gambar 8.
Busana dari tarian ini sudah lama sekali menghilang dari tanah Minahasa. Diperkirakan tarian ini menghilang sejak masyarakat suku Minahasa berubah dari masyarakat yang Matriarchat (mengikuti hukum keibuan) kebentuk masyarakat Patriarchat (mengikuti hukum kebapakan).
Tarian ini adalah semacam tarian yang ditarikan oleh prajurit-prajurit wanita, karena tarian adalah semacam tari perang, pada masa suku bangsa Minahasa diperintah oleh seorang Walian wanita. Hal ini dijelaskan oleh beberapa penulis bangsa eropa yang menulis bahwa tarian ini ada ketika pada masa pemerintahan dari pemimpin-pemimpin wanita yang berkedudukan sebagai Walian Wangko. Namun data-data/ keterangan dari seragam tarian ini memang sedikit sekali ditulis. Jenis tarian ini sebenarnya masih ditarikan secara pribadi oleh orang-orang tertentu yakni menari-nari sambil berputar-putar sambil memegang ujung kain dengan tangan kiri. Sehingga kelihatannya tarian ini bukan lagi tarian, tapi sudah semacam bela diri oleh kaum wanita terhadap ilmu hitam dari kaum pria. Perkembangan dari busana Kawasaran wanita ini begitu cepat menghilang, karena sangat erat hubungannya dengan kedudukan dan status wanita dalam masyarakat. Dan diperkirakan waraney-waraney wanita masih bertahan sampai memasuki abad ke-14.
Kemudian memasuki abad ke-18 jenis tarian ini berkembang lagi secara individual yaitu hanya ditarikan oleh beberapa orang wanita tua yang masih menguasai ilmu bela diri, karena tarian ini bersifat tarian bela diri.
Adapun nama-nama kelengkapan pakaian dari penari Tombarian yang masih dapat dicatat adalah yang ditemukan dari arti nama-nama Minahasa dalam buku karangan Sam Woley dan J. Pangemanan. Kemudian gambar-gambar dari model busananya masih sempat ditulis oleh seorang penulis bangsa barat bernama Hetty Palm dalam bukunya ‘’Ancient Art Of The Minahasa’’, misalnya : Porong Kahu (porong = topi, kahu = emas). Jadi Porong Kahu artinya topi yang terbuat dari emas. Saying bentuknya tak ada lagi atau tidak diketahui lagi, karena perhiasan dari emas hilang pada jaman Spanyol maupun jaman Belanda.

Busana Penari Kawasaran Pria.
Sama halnya Tombarian untuk wanita, maka Kawasaran inipun adalah tarian perang yang ditarikan oleh pria. Pemimpin dari tarian perang Kawasaran ini bernama TUMUTUSUK (Tumutu = disengaja berulang-ulang kali, tusuk = petunjuk).
Pemimpin ini menggunakan dua buah paruh burung yakni yang satu terdapat dibagian depan dan satunya lagi dibelakang. Pada bahunya terdapat hiasan kain merah bersulam disebut Sasolong. Didadanya terdapat (memakai) penutup dada terbuat dari tembaga tipis yang disebut Karaisengkau. Dahulunya diduga ada baju dari tembaga asli dan pada jaman Spanyo mereka memakai baju dari besi buatan Spanyol.
Tumutusuk ini dikawal oleh dua orang pemain tombak yang disebut Patuusan, yaitu masing-masing ahli dalam mengobati luka karena senjata tajam dan yang seorang lagi disebut Lelean, yaitu ahli dalam pengetahuan dari leluhur dan ahli upacara adat.
Para prajurit sebelum berangkat berperang terlebih dahulu dibuatkan satu upacara adat, untuk menguji kekebalan atau kesaktian berperang dari setiap prajurit. Caranya adalah dengan jalan diperhadapkan antara satu dengan yang lainnya, kemudian saling mengadu kekuatan atau kelincahan masing-masing. Dan kepada mereka yang ternyata belum cukup tangguh menghadapi lawannya akan dimandikan oleh Tonaas-Walian tertentu untuk menambahkan keberanian serta kekebalan terhadap kesaktian yang merupakan syarat mutlak dari setiap prajurit perang.

Untuk memulai permainan, maka para penari Kawasaran harus menghafal sampai 20 (dua puluh) jenis aba-aba antara lain :
1. Masaruan (berhadapan).
2. Gokgok u Santi (goyang senjata).
3. I yayat u santi (angkat senjata sambil berteriak).
4. Sumoi soi (mundur).
5. Malingkawitan (tukar tempat).
6. Kumontak (melompat Jauh).
7. Lumionda (menari).
8. dan sebagainya..

Tarian Kawasaran ini selain ditarikan untuk latihan berperang juga ditarikan untuk kesempatan acara sebagai berikut :
a. Pemberian penghormatan kepada tamu negeri dan hingga kini masih tetap berlaku.
b. Upacara mengusir musibah karena penyakit.
c. Mengawal jenasah para pimpinan negeri pada upacara pemakaman.
d. Mengawal Pengantin.
e. Mengawal upacara Tonaas dan Walian di Watu Pinawetengan dan Watu Tumotowa.

Selain ditarikan pada upacara-upacara tersebut diatas tarian Kawasaran juga dimainkan dalam upacara tahun baru. Dalam upacara ini tarian Kawasaran disebut Mahsasauh karena dalam suasana gembira. Penari Kawasaran ini terdiri dari pria yang dilengkapi dengan pakaian adat perang dengan jumlah yang tak terbatas. (lihat gambar. 6a, 6b).

Pakaian Minahasa (Kaepat)


JENIS PAKAIAN,PERHIASAN DAN KELENGKAPAN

Dalam abad yang ke-13 dan 15 Masehi yakni pada jaman Minaesa perkembangan pakaian Minahasa dapat dikatakan mengalami peningkatan yang pesat dengan adanya pengaruh-pengaruh dari bangsa-bangsa luar. Yakni diketahui bahwa jaman tahun 650-1000 M pakaian sangat sederhana dan jenisnyapun masih sangat kurang.

Pakaian Sehari-hari
Pakaian Wanita
a. Pakaian untuk badan bagian atas
Mengenai pakaian khususnya pakaian wanita sudah mulai ada perubahan,walaupun bahannya masih tetap dari kulit kayu. Untuk pakaian bagian atas mereka memakai semacam kebaya yang mereka namakan WUYANG.Yaitu kemungkinan dari bahasa Malayu Manado ialah fungsi berarti kulit kayu atau pakaian kulit kayu. Warn dari kulit kayu ini adalah coklat.
Disamping dari bahan yang dibuat dari kulit kayu mereka sudah mengenal kain yang bahannya dibuat dari serat dan kapas. Merekapun sudah mulai mengenal pakaian untuk dipakai sebagaigaun atau blus yang mereka kenal dengan nama Paslongan Rinietan.Sedang nama tenunan adalah tenunan Bentenan.
‘Kain Bentenen’ditenun dengan ikat fungsi terdiri dari tiga bagian yang disambung; ragam hias jalur-jalur warna merah kecoklatan,biru abu-abu dengan ragam hias berwarna asli benag dengan bentuk meander dan bentuk kait,berasal dari Minahasa’(direktorat Permuseum dan Direktorat Jendral Kebudayaan Depertemen pendidikan dan kebudayaan,Brosur Pameran Keliling seni Tenun Nusantara di Manado.Kantor Wilayah Depertemen Pendidikan dan kebudayaan Sulawesi Utara cq. Bidang PSK 1980,hal 9 (lihat gambar).
Cara menenun ini diajarkan oleh Tonaas Tombarian yaitu Tonaas yang ahli khusus untuk membuat kain dari serat/kulit/kayu,disamping itu mereka sudah mengenel tenunan kain bentenan yang mereka pakai untuk rok.

Pakaian Pria
a. Pakaian untuk badan bagian atas
Tidak berbeda dengan pakaian wanita,pakaian untuk priapun mulai berkembang sejalan dengan kemajuan yang tercapai saat itu .Sehingga kalau dulunya badan atas belum diberi penutup atau tinggal terbuka,ini mereka sudah memakai semacam baju yang lurus-lurus tidak memakai lengan dan mereka sebut karei. Warnanya hitam diambil dari warna ijuk.selanjutnya gaun atau blus yang di sebut Pasolongan Rinegetan ini berkembang lagi,sehingga kemudia mereka mulai mengenal baju/kemeja dengan lengan panjang dan diberi nama baniang.Dapat diberi kerah,boleh jugan tanpa kerah.Baniang ini memakai saku pada bagian bawah sebelah kiri dan sebelah kanan. Ada kalanya bagian kiri atas juga diberi saku.
b. Pakaian untuk badan bagian bawah
Untuk pakaian badan bagian bawah inipun mulai berkembang yakni kalau dulunya mereka hanya memakai semacam cidako, maka sekarang secara bertahap mulai diganti oleh celana, mulai dengan bentuk yang pendek sampai lutut, kemudian bergantian dengan celana panjang sampai ditumit. Modelnya masih sangat sederhana (seperti model piama). (lihat gambar 4).

Pakaian Upacara.
Dalam menjalankan upacara-upacara adat ataupun upacara keagamaan lainnya seperti tersebut diatas, bahwa semua itu dilaksanakan oleh orang-orang tertentu yang mereka namakan Tonaas-Tonaas dan Walian-Walian dan ada pula yang disebut Waraney-Waraney (pimpinan perang).
Untuk pakaian dari Tonaas-Tonaas ini terdiri dari baju yang panjang sama dengan pakaian pendeta sekarang. Sekarang disebut Toga (lihat gambar 5). Selain dari pakaian Tonaas yang disebutkan diatas mereka juga mengenal pakaian untuk berperang dan pakaian menyambut tamu (petor). Lihat gambar 6a, 6b.
Pakaian berperang yang dipakai oleh Waraney = suraro = prajurit hampir menyerupai dengan pakaian Kawasaran, yang pada topi diberi atau dilengkapi dengan/ditata dengan bulu dari ekor ayam jantan yang panjang dan mereka menyebutnya Pantou. Selanjutnya dilengkapi dengan peralatan berperang seperti tombak dan pedang.
Gadis Bantik.
Pakaian upacara untuk wanita gadis Bantik ini sangat rumit sekali. Dibuat dari benang (serat) dari koffo, yaitu sejenis pisang. ‘kain koffo ini terbuat dari benang pisang, benang pakan tambahan berwarnacoklat muda membentuk ragam hias bidang-bidang persegi empat dengan motif bunga. Seluruh permukaan dihias bidang segi empat terdapat motif kait, ikal pucuk pakis dan gigi belakang berasal dari pulau sangir. (Direktorat Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Brosur Pameran Keliling Seni Tenun Nusantara di Manado, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Utara, cq. Bidang PSK, Manado, 1980 Hal. 7). Mereka memakai sarung (kaeng) dan dilengkapi dengan tenunan lain dibahu kiri. Selanjutnya pada pergelangan tangan mereka memakai gelang warna hitam yang terbuat dari kerang raksasa. Kemudian tangan kiri memegang nyiru (sosiru) atau wulolong (bakul) yang berisi jagung. Ini menggambarkan kekayaan dari si pemakai. (Lihat gambar 7)

Kiitan : Ritual Yang Harus Dijalani


Keli tou ma taney sapakem eng ka taney eng mangila wentel ase tou ma ampet kumapa se tou makakila ma ator cuanam asi tempo ke u nitu sia makerem ato weenem I ma ampet yana. Si tou maka taney yana meseaem terang. Eng kukuwa kiitan anio eng lalanan na lalambotan terang, sapape sa ca kiitan maka keli si pa taney na kakerean caka indoana ato si saleena ca u kapute salena. Eng ka kesotna maya wo si endo taneyna mawutul-wutul loor sama, sa u ca tumena sumui ke.

Em makakeli eng katare se kiitan wutul se endo loor eng sisiran sama si endo sa u mangila wentel mengat si serap kawangker wangkerna kumapa se serap kandoan kawangker-wangkerna. Asitum si tou sa u rummages wo tumembur eng wentel kumarapi se u umper situm eng kiitan emaen eng kanaramana. 

Sa kiitan eng nowak eng katare wutul masama-sama ca u sasakitan wope elur sama, sa u mangem ase tampa u nitu eng taar e matua ca u rona mareng somoy sapakem mareng ase walena sa u awean eng kinalupaana. Ke kesotna am bale am panapa eng kikina kumesot rior eng kiki kakan ca toro si kiki kabiri. Andarem wale wo se anduru wale carona ka lingan se tou sumeit wo se tetelengka ma tenge makatelu o sowaten ne tetelengka walina makatelu keey. Situm waya em popokey carona wo maya mento toyo wo o maya. Sa mayaem kumesot ambale wo lesad ca u rona posoken ne papiaran wo sapakem nana makad e tou lumangkoy o posokena ko em pawayaannu.

U Umper : Berbagai Macam Sesajen.


U umper maka keli pa puten ila manuwu kapute ila welet sa si pa romaanta anio weyna wo ca pute se kakeli tou makakila. Eng kaweynaan nila anio  si u umper wo si welet kakilaanta sa serenta emaan nambisa wo angkanaramen sapa em papaken. Sa seren sama sa kilaanta si u umper pa paken ila sa awean kanaramen mator mangaley ase Amang Kasuruan Wangko wo sa rangatan ta si Apo eng pangilaan ta mei ase oras wo tambisake eng kasaleanta tumowa. Ma walina se welet sa cita awean tinanem anuma ato se papiaranta ambale wo anuma eng kasaleanta makere katoroanta si welet anio sipaka wee ila ase tampa anitu. Maka keli se pa wee ila se kakanen unure makapu.

Eng roromaanta nambiay se u umper eng kanaramen ne tou mator ase tampa ang keli si tampa kapelian kilaanta se kakanen wawean an doong kapute se pe ngangan ta makakeli. En sa u mator rumeindeng a se Amang Kasuruan Wangko u umper an dangka ni’u wangker wayake se tudana tawaang maka siouw eng laleyna. Rumeindeng anio si kanaramen u nure sa anuma wawean tatawoyen wo eng keli tou ma sembong taan wayake en toyo siniwon e makawale, meki aweas kakanen nitu si walian mangorai rumeindeng wo mangaley ase Amang Kauruan Wangko mee kamang eng kakanen kanen se tou ma tawoy. Paka engkeyena mange eng ni’u an dangka rokosna o sia mangaley sa wutul kamangen se tempo nituke aweanem kakanen an dangka ni’u tepe.

Sa serenta pe eng u umper seyla se ma ator si ma ampet weyne pe keey sa eng nana toran anio kumeli toyo ase kanaramen andior wo, sa siilen ne matua si naram ma ator kapute in tepe maka keli sila sa u mator cawana si pa umper ila ca sama mange sa pangilaan e apo siri wo tenga. Eng meiem en tepe maka kelim se papangilaan ne tou ma ampet ca wayake tutu karapi seda pa umper oka ila. Sa kiiten kar bo sama se uumper kanaramen in tepe yo karu wutul sapakem se se uumper tutu wo seda situ karu eng kanaramen rummages. Sa kiiten in tepe kanaramen ila ma ator uumper ila waya kasiouw tutu nielus, kasiouw eng tabaku ginulung, kasiouw  eng u’pe an darem kower, kasiouw wulinga koko maroro em, wo siouw nga tampa eng laleyna siri situm waya si u umper paka wekar an dangka I laleyna lekik kumapa ang laleyna punti.

Aweane ke se u umper se ang tampa weyna em paka wee ila ase tampa niambengan ne matua wo, ase watu tumotowa wo ase tampa telew I matua andiorwo. Mande se tampa u nitu ca emaen natoran se maampet, paka taar e matua se tou ma ento ase anduru pakatampa e matua wo se niengat e apo eng kakilaena puyun na sila eng ma bee u umper ase tampa u nitu.

Kokowa : Ilmu Kecepatan Gerak Tubuh.



Sa u ase kokowa intepe kanaramen oka pa paken ila sa u rumepet ing kawayo, sumoring se wala meki tanda sa u enenam I pinangilaan nampe se kawayo muntung sa u rumepet. Sa u pute andiorwo se mapake se wentel anio maka keli sila si ato sila si parudu e matua an doong mange mengat sapakem si salean ila taan tatayangan mange indoan. Kapute sa sila mange ang tudana soputan cake si tampa nitu tatayangan, ma sosod kee. An tudana soputan ca wayake se tampa kapelian talus nana se maka tampa tinanem pa emaen nila leleme wee ase tou sumakit. Kumawes mange se roong maka wangkerem wo se taranak maka kelim, ambisa ke se pa umaan nila ambitum weta entoen ila. Maka alasan nana se pook ma ento an tayang situm weta si kokowa pa paken I tou andior wo nampe meki enteng sila mee cabar.

Si matua ma sisil si maka kila ase wentel anio pakua ila sa sumere se tou kinatuakanem ase owak na eng rior kapilaan si tou yana mabaya maka kenteyke, sa pilaaen sia ca ma tambak an tana. Awean se matua ma totu tou pe in tepe ang roong tempok makakua sia se toyaangwo maka umur sangapulu ka awes rua nga taon pernah ryudu e matua mange ase tudana soputan mange mindo tinanem kapute ryudu e matuana. Kappa ennenam si ryudu asia, sia meleles maya si tempo nitu kawangker wangker serap saca mesea jam pityu wengi. Eng pakua na waya ke wona sangapulu menit sia ca tekaem ase tampa pute terang si tampa wo maka tanda ase tampa u nitu wo se tinanem kapute ryudu e matua. An darem talun kalimbeng limbeng terang pakaseren na si ninanem nitu kinaka tembusan ne sendot e serap. Eng capangartianna sia ma kua sitampa nitu pebana tou malangkoy taan se tampa lalan pa teron nana papelasen terang. Kewarengna ase kuntung an tudana suputan waya ke bona kalima menit sia catekaem ase wale matua na. Ka catekaem mange sia am bale maka tuas se si mamana mema kopi an dodika o sia melepem, eng tempona kaure sia maya kapute kaure si mamana tumuun rano paso an dodika o simamana malekep mema kopi o melep.

A se ilmu anio ca ka pute se pakua I wentel, masama mange se tou pa ryudu ila myakere wee I telew matua, kanaramen kumeli keli cawana papaken wo uwiten ne se tou ryudu. Sa lingan si ilmu anio pakasanke paken kumawes mange yorona paken. Se ilmu anio maka kiitke se matua makakila wo elur sama maka timboy anio ase ka saleanake sia me ease tou walina nitu ke sa awean si mekibantu asia o yo rona tundan. Puteke se kumabar se taranak wo se pook maka ento antayang roong kinatouwan sa awean cabar pook ela sumakit, myatem wo sa wean se roong yana niuntepen tou lewo o perlun se tou keter yana ma ento antayang muser sila.


Ka weyna se kokowa anio papaken ila sa u rumepet kawayo makakeli se maka kawayo meki soring ase tou makakila si kanaramen anio esa ke eng kasalean nila si kawayo ila muntung sa u rumepet. Kanaramen ila sa rua ato telu ngando kawayo rumepet sila mengat endo loor ase wengi nitu sumoring luminga si sosowat I wala. Ase tempo nitu keli pe talun ang somoy ke wale rona emaen ase tampa u nitu. Sa u si kawayo niatorem sama wo kiniitanem loor waya. Se sosomoy em seren ila sowat I wala eng ka soring e matua. Makakeli mande nioatorem loor si kawayo taan ca loor sowat e wala sikawayo yana ca muntung eng kindeen ke mande ca muntung caam si kawayo wo se tou ca u cumilaka. Ase tou meki kila se kanaramen anio mande si kawayo ila loor oka sama sila ca masale eng pakowa wo repet si kawayo ila.