Tataney Tou Ase Serap Wangko

Kumeli-Keli Se Tou Makaento Asi Serap Wangko Ung Mator Wentel, Mindo Wentel, Tumembur Im Bentel, Wo Sila Si Mumper Ase Tampa Kapelian.

Owak Sama Se Apo Ta Wo

Sapakem Se Teteir Makaento Ase Tou Winentelan, Wo Sila Si Maka Timboy Wentel.

Em Poporak Ung Nowak Kapute Mateleb

Se Wentel Anio Papaken Ne Tou Elur Sama Kaporak Owakna Kapute Se Lumelepad Ma Teleb, Sapakem Si Wentel Anio Sa U Ca Kiitan Sama Mema Sia Pakua Ila Madiara.

Walian Wangko Tu'a Tumompaso Andiorwo

Puser Im Pe Mentelan Eng Kanaramen An Tana Tumompaso Situm Eng Kukuwa Ila Walian Wangko Tu'a. Mangaley, Rumeindeng Wo Mapangila Kamang Ase Amang Kasuruan Wangko An Tana Minahasa

Eng Katimboy-Timboy Tou Em Bentel

Pakasa Tou Matimboy Wentel Caka Pilaan Em Palalin Ila, Se Apo Maka Teir Eng Nowak Ila Wo Mengiit-Ngiit Sila Maya Mabisake.

Tampilkan postingan dengan label Sisinou. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sisinou. Tampilkan semua postingan

Tanda dan Larangan Untuk Beberapa Tanaman


Kayu
a.         Penebangan
•             saat ditebang bulan tidak dalam keadaan muncul disiang hari (serap).
•             pada saat penebangan kayu tersebut tidak berdaun muda (malulun).
•             tidak pada kondisi masih pagi dan berembun (ngelu).
b.        Pemanfaatan
Kayu yang dipersiapkan sebagai bahan banguan rumah jika dipakai harus diberi tanda antara ujung dan dasar kayu sehingga pada proses penggunaannya ujung kayu harus berada diatas dan dasar kayu harus berada dbawah.
c.             Perlawanan
Jika keterangan diatas dilawan kayu tersebut akan cepat sekali bersisik, keropos, dan cepat membusuk
d.        Arti dan maknanya
Hal ini diidentikan dengan ilmu perbintangan tanpa ada unsur takhayul.

Bambu
a.         Penebangan
•           Bambu  yang diambil harus lurus dan tua (tember) ciri dari tanda ini bambu tersebut dari ujung sampai dasar bambu sudah mengeluarkan daun dan tidak dibungkus lagi kulit mudanya (kusaba) atau paling tidak bambu tersebut sudah mulai kelihatan kuat dan keras (kalimbenganam).
•           Saat ditebang bulan tidak dalam keadaan muncul disiang hari (serap).
•           Pada saat penebangan kayu tersebut tidak berdaun muda (malulun).
•           Tidak pada kondisi masih pagi dan berembun (ngelu).
•           Bambu  yang tidak putus ujungnya (posok).
b.         Penggunaan/ pemaanfaatan.
Pada penggunaan dalam hal apa saja ujung bamboo harus selalu berada dibagian atas dan dasar bamboo selalu berada dibagian bawah. Dalam kondisi tertentu jika direbahkan/ ditempelkan pada dinding rumah atau dijadikan lantai rumah harus disusun secara bergantian antara ujung dan dasar bambu.
c.          Perlawanan
Jika keterangan diatas dilawan kayu tersebut akan cepat sekali bersisik, keropos, dan cepat membusuk
d.         Arti dan maknanya
Hal ini diidentikan dengan ilmu perbintangan tanpa ada unsur takhayul.

3          Pisang
a.         Penebangan
•           Jangan bersentuhan langsung dengan tanah
•           Dipotong pada saat bulan bagus (disiang hari tidak ada bulan)
b.         Penggunaan/ pemaanfaatan.
Setelah ditebang pisang hendaknya di gantung dan jangan sekali-kali kontak langsung dengan tanah atau ada benda lain yang menimpanya.
c.         Perlawanan
Jika keterangan diatas dilawan maka pisang tersebut walaupun sudah tua jika ditebang pada saat yang tidak tepat akan tidak masak, berbiji didalam, ataupun bisa cepat membusuk.
d.        Arti dan maknanya
Hal ini diidentikan dengan ilmu perbintangan tanpa ada unsur takhayul.

Tanah


Tanah atau Ta’na merupakan elemen penting perwujudan dewa a’wu yang dalam tradisi lisan di campakan Opo Wailan dari langit karena kesombongannya. Namun dewa A’wu ini masih diberikan kuasa untuk memberikan berkat serta bencana bagi manusia dibumi. Tetapi diapun masih membawa sifat kesombongannya dengan mengharuskan manusia memanjatkan doa dan pujian baginya jika ingin memperoleh berkat. Akan menjadi bencana disaat dia si dewa A’wu melihat manusia meninggalkannya dan tidak memujinya.

Pertanda kebaikan;
Jika ditemui gundukan tanah seolah-olah hidup dimana tanah tersebut terus menggunung di halaman atau dalam rumah, merupakan pertanda akan mendapat rejeki atau panen akan melimpah.

Pertanda keburukan;
Jika ditemukan pecahan-pecahan tanah didalam rumah, menandakan sipemilik rumah akan menghadapi kesulitan rumah tangga.
Jika ditemukan lantai tanah didapur retak-retak, menandakan sipemilik rumah akan kesulitan dalam bahan kebutuhan pokok sehari-hari

Jika lantai tanah rumah sudah banyak sekali yang retak, pertanda dewa a’wu mengharuskan sipemilik rumah memberikan sesajen (umper) padanya.

Gempa Bumi


Gempa bumi sering dikaitkan dengan sumber bencana dan juga pertanda alam bagi manusia. Gempa bumi juga disebut dengan nama lain Raas Ung Kayobaan. Menurut tradisi lisan Tou Tumompaso, Raas adalah nama lain gempa yang disebut sebagai alat pemukul bumi dari Opo Wailan. Ini merupakan suatu pertanda munculnya kemarahan dari Opo Wailan karena kurangnya ucapan syukur dan doa yang dipanjatkan pada sang khalik.

Pertanda kebaikan
Jika gempa bumi kecil terjadi pada bulan juli disaat habis panen raya hasil bumi dan diteruskan dengan upacara Pengucapan Syukur, maknanya akan datangnya kemakmuran negeri sepanjang setahun serta dilewati ancaman bencana dan kecelakaan bagi seluruh masyarakat.

Saat seorang anak lahir dan gempa bumi kecil terjadi tiga kali dalam sehari, bermakna anak tersebut akan menjadi seorang pemimpin kelak.

Pertanda keburukan
Gempa bumi terjadi pada awal tahun, merupakan pertanda akan terjadinya kemerosotan perekonomian sepanjang tahun dan diharapkan seluruh masyarakat menanam semua lahan kosong dengan tanaman pokok seperti ubi-ubian dan pisang sebagai antisipasi akan terjadinya musim panas yang panjang atau musim penghujan yang ekstrim.

Jika gempa bumi kecil sering terjadi diikuti dengan meletusnya gunung soputan, merupakan pertanda akan muncul musim kemarau panjang.

Saat gempa bumi terjadi dibulan mei, akan menjadi pertanda akan munculnya wabah penyakit menular, serta akan terjadinya kerusuhan besar dalam negeri karena disebabkan ulah masyarakatnya sendiri.

Gempa bumi terjadi disaat musim kemarau atau musim penghujan yang ekstrim, menjadi pertanda tewasnya seseorang yang memiliki ilmu kesaktian luar biasa karena menggunakan kesaktiannya dengan cara yang tidak seharusnya.


Jika gempa bumi terjadi diakhir tahun, bermakna akan terjadinya perebutan kekuasaan pemerintahan para pemimpin dengan cara tidak wajar tanpa diketahui masyarakatnya.


Bintang


Bintang sesungguhnya diidentikan dengan dewa dalam mitologi minahasa yang dikenal dengan nama Re’rema. Re’rema dalam perwujudannya sebagai manusia dikenal sebagai karema, yang diketahui sebagai orang yang menikahkan manusia leluhur minahasa yaitu Toar dan Lumimuut. Re’rema juga dikenal sebagai penguasa senja dan subuh yaitu waktu antara jam stengah lima sampai jam stengah tujuh baik pada waktu pagi maupun sore hari. Ucapan yang terkenal dari karema saat menikahkan Toar dan Lumimuut adalah; ‘akad se toya’ang mi’ouw makeli kele se kakeli si sendot um bengi an dangka ung kayobaan’. Terjemahan bebasnya ‘ sampai anak-anak kalian menjadi banyak seperti bintang dilangit’. Re’rema juga dikenal dengan bintang fajar, atau diketahui sebagai planet mars saat ini. Re’rema atau karema juga merupakan pemimpin upacara adat keagamaan pertama ditanah minahasa. Dia diyakini tidak mati namun terangkat kelangit. Altar suci peninggalan karema berada di perkebunan sawah desa sendangan dikepolisian sowa. Ada beberapa makna yang dijaga hingga saat ini yang berhubungan dengan bintang yaitu;

Jika anda melihat bintang jatuh, hendaknya anda menyebutkan keinginan anda. Maknanya keinginan anda akan didengar dan dikabulkan cita-citanya oleh Opo Wailan melalui perantaran karema.


Kalau anda melihat bintang berekor (komet) bersamaan dengan bintang jatuh, maka dalam waktu dekat anda akan mendapat rejeki yang sangat besar dan datang secara tidak terduga.


Awan


Awan merupakan salah satu dewa dalam cerita lama sebagai perwujudan dewa Lii’limbeng yaitu dewa kegelapan yang merupakan dewa angkara murka serta pembawa bencana. Ada kebiasaan orang yang menaruh ember atau tong penampung air diluar rumah disaat musim kemarau dengan mengharapkan hujan sambil memberikan sesajen dan membakar wewangian di dapur sambil membuka seluruh pintu dan jendela rumah. Demikianpun disaat musim hujan yang sudah berkepanjangan disertai angin badai, dibuat ritual khusus dengan membuat upacara pengorbanan hewan berupa babi atau ayam. Kalau pengorbanan hewan tidak berhasil maka diganti dengan pengorbanan seorang manusia yang diambil diluar suku yang dicari oleh Pamuis. 


Ada beberapa larangan;

Jangan terlalu lama memandangi gumpalan awan terlalu lama karena akan membuat orang tersebut akan kena sakit syaraf.


Jangan mengawasi awan dimalam hari, hal ini akan membuat awan tersebut akan menyinggahi saudara dan akan mencelakakan saudara. (Bersambung)

Pelangi


Pelangi dianggap merupakan baju yang dibuat sebagai jembatan dari para Wewene Le’os atau wanita peri yang cantik untuk turun kebumi mengunjungi  manusia. Ini berkaitan dengan cerita lama masyarakat tumompaso yang menyatakan ada Sembilan puteri kayangan yang sempat turun kebumi di air terjun Mei’nit untuk mandi, namun ada tiga puteri yang tertinggal karena tidak sempat kembali lagi ke kayangan sehingga menetap dan kawin dengan penduduk setempat. Arti dari timbulnya pelangi;

Ibu dari para peri yang tertinggal dibumi datang mencari ketiga anaknya yang belum sempat               pulang tersebut.

Para saudari dari peri peri tersebut datang mandi dibumi serta mencari saudara mereka itu juga.

Ada kebiasaan orang sebagai keturunan dari peri tersebut untuk membunyikan kolontang(kentongan) untuk memberitahukan ibu mereka bersembunyi jangan sampai kembali ke kayangan. (Bersambung)..

En'Do = Matahari


Sumere si’endo sendot. Endo eng kataneyan ne tou eng situ em kukuwa ila Apo Wangko kapute sisil e matua an Tumompaso, sia si kumuasa enendo ca ke nitu sia si Apo mabee keketer sapakem asi kayobaan I yasa.

Awean eng caka toroan sumere si endo maka ure situ em pa taney I matua cita sumaru si endo eng kamamualian si endo mema cita mawola o cita yorona sumere.

Sumere si endo eng katotol I noras wo cita kumuru o sumere asi rua parangkeyta ang amiona, mema cita sumere se kaserean ca u loor wo mamuali cita sumakit.

Sa u nimeiem si paso lambot, wo nimeiem eng nuran repet kasusuy e matua catoro kumesot ambale se reges lewo pakasa maka kesot-kesot sila malali sasakitan maengat wo memera-mera se tou makesot ambale o sia mee sasakitan ase tou u nitu. (Bersambung)..

Pepatah Minahasa

       1.         

Saru Lutu, Ansomoy Mata.
Saru = hadapan, lutu’ = masak, ansomoi = belakang, mata’ = mentah. Menjadi : suka menghadapi barang yang sudah masak, membelakangi yang masih mentah.
Artinya : suka bersenang senang atas hal-hal yang telah terlaksana, tetapi segan mengulurkan tangan untuk membangun atau kerja bersama.

Wuaya mendo posong, talo pakiko’an.

Wuaya = berani, mendo posong = sediakan tempat minum, talo = penakut, pakiko’an = memberikan minuman kepada sesame manusia. Menjadi : berani menyediakan tempat minum, takut apabila sesama manusia meminta minuman padanya.
Artinya : suka menerima saja, tetapi enggan memberi.

Tampanisi tumongko uwak.

Tampanisi = burung kecil yang bulunya kekuning-kuningan, tumongko = asal kata tongko = pagut ; uwak = burung tahun (taon). Menjadi : burung yang kecil memagut burung yang besar.
Artinya : orang yang kecil dan rendah kedudukannya, membinasakan orang yang besar dan tinggi kedudukannya.

Kumoto koto wo tandey tempang.

Kumoto, koto = duduk bersandarkan kaki, tandey = jagung(milu), tandey tempang = jagung yang luar biasa besarnya. Menjadi : duduk bersandarkan kaki , masakan boleh menuai jagung yang besar-besar.
Artinya : masakan boleh seorang yang malas dapat memetik hasil pekerjaan yang menyenangkan.

Ma’puri-purikitan peperaan.

Ma’purikit asal kata purikit = timbal balik, peperaan asal kata pera = kering, peperaan = tempat mengeringkan atau menjalai ikan, berganti timbale balik, sebentar diatas dan sebentar dibawah.
Artinya : hidup manusia tiada tentu; boleh menjadi kaya raya, dan sebentar boleh menjadi fakir miskin.

Niaweyan sangkole poopot.

Niaweiyan asal kata aweiy = panggul, memanggul. Sangkole = pundi-pundi, poopot = berlobang besar.
Artinya : mempunyai barang yang tak berharga sepeserpun atau bersangkutan dengan suatu pekerjaan yang hampa hasilnya.

Sipaar sumuleng langit.

Paar = ingin (suka), sumuleng asal kata suleng = menongkat. Menjadi : ingin menongkat langit.
Artinya : ingin menjadi orang kaya, ingin menjadi orang besar, atau ingin memegang kekuasaan.

Siminaalimi se’I pemangko kureh.

Minaalimi asal kata ali = bawa, minaalimi = membawa di…, pamangko asal kata wangko = besar, pamangko = membuat dan mengajak sesuatujadi lebih besar, kureh = tempat memasak nasi, lauk-pauk dll = belanga. Menjadi : membawa apa-apa akan membesarkan atau melebihi isi belanga yang maknanya harus masak nasi lebih dari hari-hari biasa atau makan lebih dari ukuran tiap-tiap hari.
Artinya : membawa suatu hal atau hasil pekerjaan juga menambahkan kegembiraan dan kesenangan rumah tangga.

Simeret londey ni Wulan-konda

Seret = menumpang, mengendarai, atau menaiki, londey = perahu, wulan =warna kuning emas, konda, endo = matahari, wulan-konda = gelaran gadis minahasa yang elok parasnya, cermat, rajin serta cekatan = bijaksana. Menjadi : mengendarai perahu dari wulan-konda.
Artinya : menjadi isteri yang bijaksana.

Saut sapun, muah saut sapun.

Saut = pisang, sapun = sejenis udang yang terdapat diair tawar ; muab = buah = berbuah. Menjadi : pisang sapun berbuah pisang sapun.
Artinya : orang pandai beranakan orang pandai, orang baik berasal dari ibu-bapak yang baik dan sebaliknya. Orang nakal beranakan anak yang nakal.

Keberanian


Soal keberanian, adalah suatu pokok yang terpenting dalam peri kehidupan seseorang, karena setiap manusia yang hidup dengan tiada berbekal keberanian , niscaya ia itu tiada sempat berbuat apa-apa untuk turut menjaga keamanan masyarakat. Orang yang tiada mempunyai keberanian, kerap kali sebab terdorong oleh perasaan cinta sangat kepada diri sendiri, maka pikirannya terganggu oleh kekhawatiran, kalau-kalau ia nanti jatuh kedalam suatu keadaan yang tiada selaras dengan angan-angan hatinya.
Setiap manusia yang terus menerus berkehendak menguntungkan diri-sendiri, orang itupun biasanya tak mempunyai keberanian didalam kalbunya, sebab orang itu senantiasa khawatir akan tiada tercapainya hal yang dimaksudkannya. Perasaan hati yang demikian sesungguhnya membahayakan keselamatan dan keamanan hidup bersama. Sebab ketiadaan keberanian itulah yang menyebabkan, sehingga orang tak dapat melahirkan kemauannya yang sebenar-benarnya, sehingga segala tingkah laku dan kata-katanya selalu kedengaran ‘ia dan murni’, dan pada hakekatnya ia itu suka mengelabui mata orang lain, seperi bunyi pepatah : ‘TELUNJUK LURUS, KELINGKING BERKAIT’.
Bahwa keberanian itu pula yang berkuasa dapat melenyapkan segala rintangan sehingga dapatlah orang melahirkan segala angan-angannya dengan terus terang: berani karena benar, takut karena salah'. (Petuah dari tulisan tangan Tou Minahasa ditahun 1980an)

Petuah Pencari Ilmu.


Bahwasanya leluhur kita pernah memberi pendidikan kepada seseorang, buat menunjukan kewajibannya masing-masing, umpamanya kewajiban bapak kepada isterinya dan sebaliknya, kewajiban bapak ibu terhadap anaknya baik lelaki atau perempuan dan kewajiban anak lelaki atau perempuan terhadap ibu atau bapaknya.
Maksud itu supaya menjadi suatu teladan bagi sekalian orang, karena memang telah menjadi lazim bahwa barang siapa mendengar, melihat atau mengetahui suatu hal atau keadaan/kejadian atau perbuatan atau kata-kata yang bersetujuan dengan angan-angan atau pikirannya, maka seboleh-bolehnya hal itu ditirunya.
Bagi orang yang telah dewasa, dapatlah ia membedakan mana yang dirasanya baik atau buruk. Akan tetapi bagi anak yang belum dapat memikir sendiri, maka hampir segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya segeralah ditirunya. Oleh sebab itu amat perlu setiap anak diberi pimpinan dengan petunjuk atau diperdengarkan cerita-cerita, riwayat-riwayat tentang jasa-jasa dan pekerti yang sifatnya menuju kepada keamanan dan kemakmuran, agar supaya mereka itu mendapatkan dasar-dasar tabiat (karakter) Sebagai yang dimaksudkan dengan riwayat atau ceritera yang didengarnya itu.
Watak selamat dan bahagia (rahayu), itulah yang dapat membawah kemakmuran dunia, bahkan selamat dan bahagia itu, adalah bertumpuan pada watak yang tertinggi dan mulia. Walaupun seorang yang berkepandaian dan berpelajaran tinggi, lagipun mempunyai kesaktian, akan tetapi bilamana ia itu terjatuh dari watak selamat dan bahagia, niscaya orang itu menjadi alat pengrusak masyarakat belaka. Orang yang demikian itupun sama artinya dengan seorang pencuri atau penyamun yang bersenja lengkap, sehingga pada hakekatnya ia itu hendak menggaduhkan  (menghuru-harakan) atau mengharu-birukan keamanan hidup bersama. 
Bagi orang yang bijaksana senantiasa menjaga supaya manusia janganlah terburu-buru mencari kesaktian, sebelum ia insyaf benar benar kepada arti keselamatan wataknya sendiri. Artinya baiklah terlebih dahulu orang berupaya buat mendapat watak selamat dan bahagia untuk dasar pikirannya, guna mengejar sesuatu kepandaian atau kesaktian. (Petuah dari tulisan Tou Minahasa di Tahun 1980an)